Sampah dalam Tubuh Anak SMA

Foto: Risna Mukti Firdaus 
Saya haturkan kepada: Anggi Hidayat dan Risna Mukti Firdaus

Dalam keadaan sekolah sepi; seperti halnya hari libur atau pun sepulang sekolah. Saya dan salah seorang teman saya biasanya memulung sampah, dari mulai tong sampah ke tong sampah; dari kelas ke kelas; bahkan ke tempat pembuangan akhir sampah. 


Biasanya yang di bawa khususnya adalah sampah seperti air kemasan; club, ale-ale, power F atau mountea. 

Alasan utama memilih model sampah seperti itu sebab memiliki daya jual tinggi ketika saya jual kepada pengepul sampah keliling, harga jual mencapai 2.500/kg bila sampah tersebut bersih; apabila masih dalam keadaan kotor harganya 2.000/kg.

***
Dewasa ini, ketika mencari uang amat susah untuk seukuran saya anak SMA maka hal memulung sampah adalah pekerjaan paling purba yang saya dan teman saya lakukan. 

Bukannya saya melakukan hal tersebut di dorong karena kurang mampu dalam hal ekonomi, melainkan mencoba me-mandirikan diri guna menghadapi dunia global sana selepas SMA nanti. 

Walupun banyak teman-teman saya yang sekolah mengambil jalan untuk berdagang makanan.

Alasan saya berkeinginan mengambil jalan seperti itu, sebab: Pertama, persaingan sangat ketat dalam dunia perdagangan. Kedua, dalam hal perdagangan saya kurang percaya diri.

Sedangkan alasan saya dan teman saya memulung sampah adalah: Pertama, tidak banyaknya seukuran saya anak SMA yang berkecimpung dalam dunia memulung sampah, entah malu atau apa. 

Kedua, dalam memulung sampah itu mudah hanya bermodalkan mental yang kuat dan menahan rasa bau tak sedap yang menyengat dari sampah. 

Sebagaimana yang saya alami, contohnya, ketika memasuki kelas untuk mencari sampah, ada bekas yang sehabis makan makanannya tidak di buang -- malah di masukkan ke dalam kolong meja atau berserakan diatas meja. 

Sehingga bau makanan tersebut seperti saus yang berceceran harus membuat saya dan teman saya tutup hidung.

Ketiga, hasil dari memulung sampah cukup tinggi, misalnya satu hari dapat 1 kilogram -- tarolah harganya 2.500/kg maka apabila dalam satu minggu sudah mendapatkan 17.500, itu baru satu minggu sedangkan dalam satu bulan bisa mendapatkan kurang-lebih 80.000. 

Cukup tinggi bukan, pendapatannya? Lumayan-lah setidaknya membantu orang tua dalam mengayuh roda penghidupan keluarga.

Pada bulan-bulan sebelumnya hasil dari memungut sampah tersebut saya dan teman saya belikan pada buku sastra, lalu di sumbangkan ke perpustakaan sekolah agar buku sastra yang sedikit di perpustakaan bisa bertambah. 

Lalu, pada bulan-bulan berikutnya hasil dari memulung sampah saya belikan hal serupa, yaitu buku, bedanya kali ini bukunya untuk perpustakaan umum di rumah saya. 

Tetapi untuk bulan-bulan ini dan kedepannya saya dan teman saya sepakat, memulung sampah kali ini adalah untuk menambah keuangan daftar UTBK dan biaya lainnya yang di perlukan UTBK di Bandung sana.

Maka dari itu, marilah adik-adik kelas memulai di antara kalian melakukan hal yang serupa dengan saya dan teman saya. 

Sebab, bukan untuk menghasilkan nilai ekonomi semata, melainkan menjalankan tugas dari Tuhan, yaitu: Annadhofatul Minal Iiman

Jangan malu! 

Sebab adik Pramoedya Ananta Toer saja, yaitu Soesilo Ananta Toer yang kuliahnya lulusan Rusia dan menjadi doktor; yang karyanya sudah belasan, tetap saja dia mempunyai penghasilan sampingan menjadi pemulung sampah.


Oleh: Savitri

0 Response to "Sampah dalam Tubuh Anak SMA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel