Kelas dan Sastra

Semester kali ini kelas kami mengadakan apresiasi terhadap buku-buku sastra, bentuk apresiasi tersebut yaitu, dengan membeli novel. Kami juga tidak sembarangan dalam membeli novel, novel yang kami beli adalah novel yang berkualitas dalam artian memberi manfaat dan wawasan yang luas bagi kami (pembaca). 

Seperti yang disarankan guru saya, novel yang saya beli adalah novel-novel seperti, Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer, Trilogi Insiden (Saksi Mata, Jazz Parpum dan Ketika Journalisme di Bungkam, Maka Sastra Harus Bicara) karya Seno Gumira Ajidarma, Amba Karya Laksmi Pamuntjak, Pulang karya Leili S. Chudori. 

Novel-novel sejarah tersebut sangat cocok untuk dibaca bagi usia kami. Walaupun demikian, banyak juga novel-novel yang berkualitas lainnya seperti, Para Priyayi dan Jalan Menikung karya Umar Kayam, Jalan Tak Ada Ujung dan Harimau! Harimau! karya Moehtar Loebis dan masih banyak novel lainnya.

Selain itu, hal yang melatarbelakangi kami untuk membeli novel tersebut. Pertama, dimana dalam semester satu ini ada sub-bab mengenai novel sejarah (khususnya) dalam modul Bahasa Indonesia yaitu, 'Menikmati Cerita Sejarah', tapi lebih ditekankan pada cerita dalam novel (yaitu novel sejara). 

Maka dari itu, kami pun terdorong untuk membeli novel. Sebagaimana serupa dengan kegelisahan Karlina Supelli dalam pidato kebudayaannya yang diterbitkan dalam buku oleh Dewan Kesenian Jakarta yang berjudul 'Kebudayaan dan Kegagapan Kita' mengatakan bahwa:
Jika demikian, tentulah seni dan sastra mempunyai peran yang amat penting dalam proses pendidikan dan bukan sekedar tempelan demi memenuhi kurikulum. 
kelas dan sastra
Dimana dengan membeli novel-novel, kami setidaknya orang-orang yang ingin memenuhi peran penting pendidikan dengan seni dan sastra, sebagaimana yang dikatakan oleh Karlina Supelli di atas.

Kedua, sebagaimana yang kami ketahui bahwa, sastra dewasa ini khususnya ditiap-tiap Sekolah Menengah Pertama (SMP) ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA). Sastra sudah dianggap tidak penting lagi dalam pembelajaran, karena dianggap buku-buku sastra seperti novel hanyalah berisi ilusi dan imajinasi belaka. 

Padahal kalau kita berkaca pada negara-negara maju, para pelajar disana mewajibakan membaca buku-buku sastra sebanyak 15-25 buku/pertahunnya.

Hal serupa sama dengan zaman negara kita waktu dijajah oleh Belanda, dimana pemerintahan Belanda mewajibkan pelajar AMS untuk membaca buku-buku sastra sebanyak 15-25 buku sastra/pertahunnya. 

Sebagaimana yang dikatakan oleh Taufiq Ismail sastrawan Angkatan '66 ini bahwa, "Jumlah ini (15-25 buku) setara dengan jumlah buku sastra yang harus dibaca siswa SMA di negara-negara maju seperti Jerman, Prancis, Belanda, Jepang, Swiss dan Amerika Serikat. Artinya, justru dizaman penjajahan kita bisa bersaing dengan negara-negara maju dalam soal literasi sastra." 

Maka dari itulah atas kekhawatiran ini, kelas kami mulai membeli dan membaca buku-buku sastra seperti yang dilakukan negara-negara maju. Sehingga tindakkan kecil kami ini, bangsa kita bisa bergengsi kembali dalam hal literasi sastra.

Maka dari itu, kita jangan menyombongkan diri dengan menganggap membeli dan membaca buku sastra seperti novel tidak penting. 

Karena pada saat ini sekolah-sekolah Indonesia 0 terhadap sastra. Untuk itu, mari kita membeli dan membaca buku-buku sastra sebagaimana kelas kami lakukan. Agar ini menjadi sesuatu tindakkan yang luar biasa untuk memajukkan pendidikan Indonesia ini. Merdeka Indonesia. Merdeka Sastra.

Oleh: Savitri
Pada: Semester 1 kelas XII

0 Response to "Kelas dan Sastra"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel