Kandangwesi

Mengenai bukti sejarah Kandangwesi, sampai saat ini belum ada data outentik. 

Baik data tertulis maupun data arkeologis yang meyakinkan kepada kita bahwa Kandangwesi merupakan sebuah kenyataan sejarah. 

Hal ini, biasa karena pada sebelum abad 15, masyarakat Indonesia belum begitu tertarik dalam hal tulis menulis, di sisi lain belum ada kertas pada waktu tersebut. Karena kertas ada di Indonesia sekitar abad 16. 

Mengenai sejarah Kandangwesi, memang disayangkan informasi yang tersebar hanya tradisi lisan saja yang berkembang dari masyarakat secara turun temurun. Hal ini tentu berdampak buruk terhadap warisan dan khasanah sejarah Kandangwesi itu sendiri. 

Karena ingatan seseorang itu tidak akan bertahan, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya faktor usia karena lupa, atau bahkan faktor ingatan seseorang yang masih belum diturunkan kepada generasi selanjutnya dikarenakan meninggal. Sehingga sejarah akan terkubur bersama ingatan orang yang mati.


kandangwesi
Syekh Datul Kahfi
Terlepas dari itu semua cerita yang berkembang dalam masyarakat Bungbulang, menuturkan bahwa Kandangwesi tidak dapat di pisahkan dengan keturunan Cirebon.[1] 

Yakni dari keturunan Syekh Datul Kahfi yang menyebarkan agama Islam di wilayah Bungbulang dan sekitarnya. Ada pula sumber lain yang mengatakan bahwa lahirnya Kandangwesi dari ”sakureun” (sepasang) yang bernama Aki Banteng Alas dan Nini Banteng Alas.[2]

Kandangwesi sudah lama ada bahkan disebut sebagai daerah tertua dengan sebutan puseur bumi yang memiliki beberapa keunikan sebuah rahasia (nyireupeun). 

Dalam tradisi lisan menyebutkan bahwa Kandangwesi telah memiliki para ahli ilmu dibidang najum dan kanuragan serta beberapa empu pembuat perkakas, yang dikenal hingga ke beberapa daerah dan sempat menjadi tujuan para raja terlebih dalam mendapatkan pusaka perang sehingga dimasa itu karya para empu berhasil menyebar ke beberapa kerajaan. 

Maka sempat terbentuknya para juru obor (santana-santana) yang berpungsi sebagai penunjuk jalan dalam mengirim persenjataan (cacandrang) dan pasokan perkakas rumah tangga serta alat-alat pertanian. 

Dalam perjalanannya tidak sedikit para empu yang sengaja berpindah hingga menetap dibeberapa daerah sebagai tukang pembuat besi (panday).

Dalam hal ini, tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Bungbulang, mengemukakan bahwa Kandangwesi merupakan sebuah fakta sejarah hal ini mengingat ada beberapa benda arkeologis yang masih tersimpan di Bojong berupa Goong, hasil peninggalan Kandangwesi pada masa kerajaan Mataram. 

Juga ada Prasasti Kebantenan yang menyebutkan bahwa Kandangwesi setiap tahunnya memberikan upeti kepada Kerajaan Padjajaran, terutama Kapas.

Selain itu, sumber dari tradisi lisan yang dituturkan oleh masyarakat Kandangwesi mengatakan bahwa Kandangwesi, bukanlah mitos. 

Kandangwesi merupakan kenyataan sejarah yang belum diketahui khalayak. Dikarnakan kesadaran masyarakat akan kesejarahan Kandangwesi itu sendiri kurang. 

Namun, berdasarkan hasil penelitian dari beberapa narasumber mengenai sejarah Kandangwesi mengisahkan bahwa awal mula Kandangwesi itu diawali dari kesalahpahaman antara keturunan Syekh Datul Kahfi [3] terhadap penobatannya gelar Wali yang di berikan kepada Sunan Gunung Djati. 

Diantara anak Syekh Datul Kahfi tersebut yang muncul dua orang, yang bernama :Eyang Jaliyah yang menetap dan menyebarkan agama Islam di Gunung Jampang dan Eyang Sembah Dalem Sireupeun yang menetap di wilayah Cibuni Nagara (Bojong).

Keturunan Syekh Datuk Kahfi ini, tidak sepakat dan tidak menerima atas penobatan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati sebagai wali. 

Mereka menganggap bahwa kedudukan tersebut tidak pantas di berikan kepadanya, karena yang pertama kali mengajarkan Islam kepada keluarga Pajajaran melalui keturunan Lara Santang adalah Syekh Datul Kahfi, maka yang seharusnya dijadikan sebagai wali paling tidak haruslah Syekh Datul Kahfi atau keturunannya. 

Selain itu Hasbullah menuturkan bahwa di duga kesalahpahaman ini juga dikarenakan anggapan Eyang Jaliyah dan Eyang Sembah Daleum Sireupeun bahwa seharusnya yang memperoleh Wali itu dari trah keturunan laku-laki (Syekh Datul Kahfi) bukan dari trah perempuan (Subang Larang), jadi yang mereka anggap pantas menerima gelar wali adalah keturunan dari Syekh Datul Kahfi. 

Padahal sebetulnya penobatan Sunan Gunung Djati sebagai wali itu tidak hanya upayanya menyebarkan Islam hingga ke wilayah Jawa, dari asal-usulnya Sunan Gunung Djati di beri gelar wali pun karena mengambil dari trah ayahnya raja Mesir yang merupakan keturuanan Nabi Muhamad SAW yang ke-22, dan Sunan Gunung Djati merupakan keturunan ke-23.

Penobatan Sunan Gunung Djati tetap berlangsung, dan diangkatlah Ia menjadi seorang wali dan melakukan penyebaran Islam di wilayah Jawa. 

Karena keturunan Syekh Datuk Kahfi tidak menerima kenyataan tersebut, akhirnya Ia meninggalkan wilayah Cirebon dan pergi ke tempat dimana mereka bisa menancapkan kekuasaan mereka di daerah tersebut sembari menyebarkan agama Islam. 

Akhirnya mereka menemukan wilayah Kandangwesi, dan dijadikannyalah Kandangwesi sebagai tempat kediaman yang baru.

Adapun wilayah-wilayah Kandangwesi meliputi : sebelah kulon Sungai Cipancong hingga wetan Sungai Cikandang. Sedangkan pusat dari Kandangwesi itu sendiri yakni di Cibuni Nagara atau Bojong sekarang. 

Bahkan pada masa penjajahan para petinggi seperti Soekarno, Muhamad Syahrir sering mengunjungi wilayah Bojong sebagai tempat untuk menyembunyikan diri dari kejaran penjajah, dan sebagai tempat pengangkatan kenegaraan.

Dari tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, mereka membuktikan bahwa sebetulnya ada bukti arkeologis dari Kandangwesi, diantaranya adanya di wilayah Batu Iuh, disitu terdapat sebuah batu kecil yang tidak sembarang orang dapat mengangkatnya, orang yang  memiliki hati bersih Ia dapat mengangkatnya dengan mudah, sedangkan orang yang memiliki hati yang kotor maka Ia tidak mampu untuk mengangkatnya.

Selain itu, data arkeologis berupa makam Eyang Jaliyah, dapat kita temukan di wilayah Gunung Jampang.[4] 

Adapun benda-benda peninggalan lainnya tidak di temukan. Namun jika ditelusuri lebih lanjut, ada beberapa tempat yang memiliki keterkaitan dengan Kandangwesi seperti Sungai Cikandang, itu di duga penamaan tersebut karena berkaitan dengan wilayah teritorial Kandangwesi. Sehingga nama tersebut diberi nama Ci Kandang.

Oleh: Setya Tri Tsani, S. Hum. (Guru Sejarah SMA Negeri 7 Garut)

Referensi

[1] Data ini di peroleh melalui proses wawancara dengan narasumber, bernama ki (-). Mengenai proses awal penamaan Kandangwesi

[2] Moch Dadi Ali. Diposkan 1st January oleh Eka Rizki.

[3]  Beliau adalah guru Rara Santang dan Walangsungsang, bahkan ada yang menyebutkan bahwa Syekh Datul Kahfi merupakan kakak dari Subang Larang atau nenek dari Sunan Gunung Djati.

[4] Hasbullah. Narasumber.

0 Response to "Kandangwesi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel