Sekolah (Bebas) Asap Rokok

Sekolah (Bebas) Asap Rokok 

Selasa pagi adalah selasa yang menyibukan otak Saya untuk bergerilya dengan mata pelajaran akuntansi yang begitu rumitnya. 

Mata pelajaran akuntansi membuat otak Saya harus cekatan dan lihay ketika menghitung angka-angka pasar, salah sedikit saja akan membuat angka-angka pasar itu berantakannya hasilnya. 

Mata pelajaran akuntansi pun selesai setelah memakan waktu kurang-lebih 2 jam pelajaran, bel berbunyi: "Ting....Ting......Ting.Ting.Ting.Ting." 

Petanda mata pelajaran akuntansi sudah habis waktunya. Dan selanjutnya akan sambung dengan mata pelajaran Geografi. 

Setelah sekian lama, jam tangan pun menunjukkan pukul 10:00 petanda jam istirahat. Dimana semua makhluk yang berseragam putih-abu keluar untuk waktu istirahat, yang setelah sekian jam mereka bergerilya dengan mata pelarannya. 

Walaupun dari sebagian mereka ada yang semangat, ada yang malas, adapula yang acuh tak acuh ketika jam pelaran berlangsung. 

Ketika istirahat, hal utama yang menjadi incaran siswa maupun guru adalah kantin, termasuk Saya sendiri untuk membeli makanan agar stamina belajar bertambah kembali. kebetulan kantin yang Saya kunjungi tidak jauh dari kelas, sehingga tubuh yang lemas ini tidak menunggu lama untuk diisi.

Dalam kantin tersebut ternyata sudah banyak para siswa yang membeli makanan dan minuman. 

Ada juga dari mereka yang sekedar nongkrong sambil ngopi, seperti gorengan dan minuman agar bisa menyegarkan suasana tubuh ketika belajar. 

Penyimpangan terjadi. Ketika Saya melihat dari kumpulan mereka yang nongkrong itu terdapat satu orang yang merokok tepat di sudut ruangan kantin ini. 

Kebetulan kantin ini tempatnya tertutup dan strategis bagi mereka yang melakukan penyimpangan seperti ini.

Ternyata bukan saja toilet yang dijadikan sarang untuk merokok yang Saya tahu, tetapi sepetinya dikantin seperti ini menjadi tempat mereka untuk menjadi tempat baru untuk merokok. 

Padahal pihak sekolah sudah melarang keras untuk tidak boleh ada yang merokok bagi siswa ataupun gurunya. 

Tindakkan tersebut sesuai dengan intruksi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang mencangkan 'kawasan tanpa rokok di lingkungan sekolah'. dengan bertujuan untuk menciptakan sekolah kondusif, bersih dan bebas dari (pe)rokok. 

Tapi kenyataan yang Saya lihat malah sebaliknya, guru-guru sebagian yang perokok merokok dengan seenaknya, sehingga jangan salahkan siswa apabila siswa-siswanya ada yang menirunya. 

Tak patut seharusnya guru merokok di sekolah khususnya, sebab guru adalah suri tauladan bagi muridnya.

Ada baiknya saran Saya kepada sekolah, sebaiknya tidakkan segera diatasi dengan semaksimal mungkin. Agar tujuan sekolah yang dalam arti luas membuat siswa menjadi lebih baik, ketika keluar sekolah. 

Bukan menjadikan siswa jadi perokok karena melihat gurunya merokok. 

Sebagaimana contoh menanggulanginya adalah: dengan membuat pamplet-pamplet berisi kalimat persuasif , yaitu "Dilarang Merokok." 

Dengan demikian, dengan adanya pamflet yang bernada persuasif seperti itu bisa memperingatkan mereka yang akan melakukan penyimpangan dengan merokok di sekolah.

Oleh: Savitri

0 Response to "Sekolah (Bebas) Asap Rokok"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel