Perjuangan Sang Volunteer

Satu juta orang bodoh takkan bisa menggerakkan dan menjalankan satu kereta api. Tapi satu manusia modern dapat (Pramoedya Ananta Toer )
Perjuangan Sang Volunter
8 April 2018

START-STEER-STOR! Inilah kiranya istilah caraku untuk mendapatkan dana bagi Taman Bacaku untuk Masyarakat. 

Dimana kala itu aku di himpit gejolak ekonomi yang parah bagi Taman Baca, sepertihalnya untuk membiayai Taman Baca juga kosong-melompong, karena keuanganku berbenturan akan biaya yang di gunakan untuk tugas sekolah. 

Ditambah lagi bibiku seorang yang sangat melotot akan uang, tidak berpikir akan manfaat pengetahuan dan tidak berpikir Modern, pun dia mengusir seluruh buku-buku dan segala kaitannya mengenai perangkat Taman Baca. 

Dengan alasan memelihara buku sama halnya dengan memungut berlembar-lembar sampah bersih, tiada guna, untuk menghasilkan nilai Ekonomis.

Akupun lapang dada menerima perihal: pengusiran itu. 

Dari situ pikiran-ku seolah-olah prahara menghadang jiwa, dan di situ pula aku harus berpikir habis-habisan mencari inisiatif untuk mencari tempat, dimana buku-buku harus bersemayam kembali pada tempat yang selayaknya ditempati, agar buku-buku kembali dalam peristirahatannya, guna untuk siap dibaca oleh para generasi-generasi abad 21 ini yang haus akan beribu-ribu cahaya semesta Ilmu Pengetahuan. 

Oada saat itu, untuk sementara buku-buku tersebut di alihkan ke rumah nenekku. Oh-Buku-Oh. Kalo bukan kepentingan desaku, tiada sudilah aku memikirkan semua buku-buku itu. 

Kalo bukan untuk desaku, sudah habisku bakar buku-buku itu. Tapi ini tugas dan kewajiban hidupku yang telah mengetahui akan nikmatnya ilmu pengetahuan dan manfaat akan membaca. 

Barang menginginkan menjadi manusia modern akan lubuk hati, pikiran dan jiwa serta fisiknya. Dimana abad 21 ini persaingam peradaban dunia makin ketat, sehingga ilmu pengetahuan di dapat dengan pelantara membaca dan mencari beribu pengalaman. 

Barang beberapa hari aku-pun mempunyai inisiatip untuk mencari perihal: Dana bagii Taman Bacaku. Yaitu dimana aku berinisiatip untuk untuk menggalang dana dari masyarakat sekitar ruang lingkup desa, dalam berbentuk proposal. 

Mungkin istilah ini sudah tidak aneh lagi didengar oleh telinga kita, yang kemudian aku sebut dengan istilah: START-STEER-STOR. 

Mengapa demikian?, agar terlihat aneh untuk di dengar. 

Tekniknya penggalangan proposal ini adalah dengan meminta-minta dari satu rumah ke rumah lainnya. Dari satu kampung ke kampung lainnya. Dengan syarat proposal ini sudah di tanda tangani dan dukung oleh pihak Kepala Desa. 

Agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam penggalangan dana lewat proposal tersebut.

Menurut pendapat guruku mengenai penggalangan dana lewat proposal ini, yang aku sebut dengan istilah START-STEER-STOR ini, dia mengacungi jempol. 

Karena menurut dia: Dengan cara ini kamu akan bisa bersosialisasikan Taman Bacamu untuk dikenal orang. 

Apalagi kamu mensosialisasikannya dengan ruang lingkup desa, itu sangat luas untuk di kenal oleh se-desamu. Sehingga kamu tiada mengalami keterasingan atas perbuatanmu yang sekarang dijalankan, perihal adanya Taman Baca tersebut. 

Dan juga kamu seolah-olah melatih mentalmu untuk mengenal masyarakat.

Perihal donatur yang kamu lakukan memanglah langka. 

Mengapa demikian?, karena sekaliber Komunitas Ngejah-pun tidak pernah melakukan hal semacam ini.". . . ." Mungkin ini adalah suatu kekhasan dalam setiap Taman Baca. 

Semisal contoh, SAKABACA mereka semua mengandalkan buku-bukunya lewat teman-temannya saling berkomunikasi mengenai buku-bukunya. 

Dan saya Komunitas SIRARU, lebih mengutamakan bantuan dari lembaga. Sedangkan Taman Bacamu KAKILANGIT lebih mengarah secara personal dalam meminta bantuan. 

Maupun itu dalam ruang lingkup desa, ataupun media sosial. Hal tersebut tidak saja kamu meminta bantuan, kamu juga seolah-olah silaturahmi dan mengenal mereka yang membantumu. 

Sehingga kamu akan mengenal banyak orang yang tadinya kamu tidak mengenalnya.

***
Adalah dua masalah kecil ketika aku mulai perihal: START-STEER-STOR itu. 

Pertama ialah tentunya perkara keuangan yang tidak ada untuk mem-print sekaligus mempotokopi-nya. Akan tetapi, untunglah temanku mempunyai uang, walaupun hanya cukup untuk memprint saja. 

Tapi tak apalah, untuk mempotokopi-nya aku menghutang terlebih dahulu. Untuk membayarnya biarlah hasil START-STEER-STOR yang akan menjawabnya. 

Kedua adalah masalah pasukan yang minim untuk mencari sumbangan. Bayangkan desaku yang begitu luas, yang terdiri dari 17 lorong kampung, harus di galang dengan jumlah 4 orang.

Hari minggupun datang.

Hari minggu adalah hari baik untuk melakukan sumbangan tersebut, dimana kegiatan sekolah kosong. Jadi, aku pergunakan hari minggu itu dengan sebaik mungkin. 

Untung saja aku mempunyai adik-adik yang biasa membaca di Taman Baca, mereka ikut membantu, karena sama-sama tidak mempunyai kegiatan penting. Sehingga yang tadinya 4 orang bertambah mrnjadi 8 orang, yang siap membantu untuk jalannya donasi untuk Taman Baca. 

Akupun tiada maksud lagi, kecuali memberi mereka pengalaman-prngalaman, agar kelak mereka bisa mengambil pembelajaran dari pada kegiatan START-STIR-STOR itu, maupun itu benbentuk moral ataupun material. Kita tak tahu-kan. 

Aku berpikir kalaulah aku duduk, dimana sebangsaku terciut akan pendidikan dan mengetahui manfaatnya ilmu pengetahuan. 

Mungkin, pemerintah dan masyarakat akan berbondong-bondong mengalokasikan dananya sebaik mungkin untuk pendidikan dan ilmu pengetahuan. 

Sebagaimana contoh perpustakaan yang harus wajib satu desa satu perpustakaan-pun lapurt tidak dijalankannya. Kalau lah, pemerintah amanah atas pengalokasian dana bagi perpustakaan, maka akupun tiada sudi melakukan kegiatan mencari-cari dana sumbangan seperti ini kepada warga sekitar. 

Tapi apalah jalan yang kutemui saat ini untuk mencari dana bagi Taman Baca, ialah meminta-minta sumbangan dari rumah ke rumah. Dari kampung ke kampung. Dimana terdiri atas 17 kampung ini. 

Apalah dayaku yang masih seorang terpelajar dimana masih mengandalkan dengan pikiran dan tindakan yang terbatas. Kebutuhan seorang diri pun masih bergantung pada Orang Tua. Tapi saya pikir, inilah satu langkah pemikiran MANUSIA MODERN.

***  
Syahdan, kami membagi-bagi tugas untuk masuk lorong-lorong kampung yang sudah kami sepakatkan. 

Begitu terpukul mentalku ini, mungkin untuk teman-temanku juga. Tapi apa boleh buat, agar Taman Baca terfasilitasi akan buku-buku atau yang lainnya. Inilah resiko atas langkah yang aku perbuat. 

Pramoedya pun mengatakan dalam buku terkenalnya Jejak Langkah. Bahwa, "Hidup pun risiko. Setiap gigi pada gusi pun ada risikonya." Jelas aku harus melawan rasa maluku itu. Melawan! Melawan! dan Melawan arena kehidupan.

Saat itu aku kebagian Kampung Barujaya, Kampung Barujaya ada kampung yang masih lekat tradisinya, dimana aktivitas Pemawayangan masih ada di Kampung Barujaya ini, terletak di bawah bukit yang bernama Walang.

Setiap rumah-rumah aku datangi dengan perasaan malu dan kikuk setiap berkata kepada mereka, agar bisa berkenan memberikan donasinya barang beberapa ratus perak atau ribuan uang. 

Terlebih dari itu, adapula yang memberi sumbangan berupa Beras. 

Kebetulan pada saat kami meminta sumbangan para petani sedang bahagianya sudah memanen padi-padinya. Sehingga aku dan temanku tergopoh-gopoh membawa beras dalam kantong dan jok motorku. 

Kira-kira dalam kantongku terdapat 5 Kg beras dan dalam jok motor juga  terdapat 2 Kg beras. Ketika terik matahari menyelimuti Kampung Barujaya. Sehingga keringatku mengucur keluar dari setiap pori-pori kulitku.

Alangkah sialnya, selama perjalanan meminta sumbangan tersrbut, selalu aku saja yang di andalkan harus berbicara kepada setiap warga kampung untuk meminta sumbangan. 

Temanku ini malunya tiada tara, aku yang selalu paksa dia untuk bagian dia yang berbicara kepada warga kampung untuk meminta sumbangan, tapi paksaanku tidak mempan, dia kukuh tidak mau. 

Dia malah tidak lepas dari sepada motor karena takut, untuksaya paksa kembali untuk meminta sumbangan. Tapi manusia itu (temanku), ada kelebihan juga dimana dia bersikap dingin dan realistis ketika berpikir. Sehingga dia cukup di andalkan ketika ada masalah dalam Taman Baca. 

Tapi mungkin untuk bertindak dia tidak bisa di andalkan, apalagi ketika pekerjaan itu menjurus pada uji mental.

Beberapa jam kemudian pekerjaan meminta sumbangan sudah beres untuk Kampung Barujaya, dengan membawa segenggam uang recehan dan ribuan yang lumayan banyak dan menggembol sekantong beras yang amat berat. 

Kebetulan pada waktu itu, awan sudah mememarkan warna hitamnya, petanda akan turun hujan.

Ternyata-oh-ternyata. Teman-temanku yang lainnya juga ada yang sepertiku, membawa segenggam uang dan segembol beras, malahan adik-adikku tidak sepeserpun membawa uang, tapi, sekardus beras. 

Alhamdulillah. Jika ada yang memberi sumbangan beras, biasanya kami tukarkan ke penggiling beras untuk di barter-kan dengan 

Mungkin itu sepotong cerita Literasi dari TBM Kakilangit Desa Bojong.

0 Response to "Perjuangan Sang Volunteer "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel