Islam Menjadi (Tangan) Kapitalisme

“Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.” (QS. At-Taubah, 9: 9).

Islam Menjadi (Tangan) Kapitalisme    
Dewasa ini, sebagian manusia terutama kaum muslim sedang asyik-asyiknya menjilat uang dengan cara mengatasnamakan Islam. 

Mereka dengan bangganya menawarkan produk kepada konsumennya, bahwa ini produk 'halal', ke'halal'annya dijamin langsung oleh ustadz atau ustadzah Islam -- malah ustadz-ustadz yang menjadi bintang iklan produk tersebut. 

Maka dari itu, tak sedikit barang-barangnya laku terjual, yang di sebabkan oleh doktrin 'label Islam' sehingga menjadi aman. Lha, lalu kok hal tersebut disebut istilah menjual Islam, kok bisa?                                                                     
                                                                               ***
Sudah menjadi bukti nyata bahwa banyak yang menyerang Islam dalam berbagai bentuk, Indonesia salah satunya. 

Di Indonesia kapitalisme secara tidak terasa di sambut baik oleh masyarakat Indonesia, di karenakan Indonesia terkenal sebagai mayoritas negara muslim maka kapitalisme pun muncul dan menyelinap pada aspek-aspek intim seperti perdagangan. 

Disisi lain perdagangan adalah hal yang utama dalam kehidupan untuk memperoleh nilai ekonomi, maka keuntungan dari perdagangan pun besar, apalagi dengan dalih ke'halal'an di jamin oleh Islam. 

Wah! semakin menjadi-jadi keuntungannya. Mungkin bagi mereka yang tidak peka terhadap masalah sosial, hal ini mungkin di anggap sah-sah saja -- malahan disebut media dakwah.

Sebagaimana contohnya yang lagi ng-trend tahun-tahun ini adalah sebut saja fantasinya 'HNEE' ataupun 'Taens Syarizah' dimana kedua produk perdagangan ini dilakukan dengan apa yang di sebut labeling Islam dalam praktik promosinya. 

Bagaimana tidak menggiurkan coba, pada acara akhir pekan 2016 lalu 'Taens Syarizah' ini katanya memberikan penghargaan 185 orang dengan hadiah: 26 mobil niaga, 113 sepeda motor, dan 12 mobil mewah. 

Wow! Islam laris juga jadi salesman. Saya jadi teringat ketika berdiskusi dengan salah seorang guru Saya, bahwa penomena ini sama saja dengan Islam menjadi agen salesman terhandal dijaman ini. 

Kok bisa!? Ya, bisa karena hal tersebut dilakukan demi perut dong. 

Padahal Allah pun memberikan peringatan, bahwa: manusia akan melakukan segala cara (keserahan) demi kebutuhan perutnya. 

Atau lebih sederhananya dalam esai satirenya Nurcholish Madjid yang berjudul "Korupsi" tertera, bahwa: sebab perbuatan baik manusia bukanlah "untuk kepentingan" Tuhan (sekalipun justru harus dilakukan demi Tuhan). 

Melainkan untuk kepentingan manusia itu sendiri sebagaimana perbuatab jahatnya tidak akan merugikan Tuhan melainkan akan merugikan manusia bersangkutan sendiri.

Maka Saya katakan dengan tegas, bahwa: lebih berharga mereka yang mempunyai brand dengan tidak mempunyai unsur sara, setidaknya mereka menghargai agama sebagai sesuatu yang sakral. 

Daripada mereka yang menjual agama sendiri, sehingga mereka bukan tertarik pada Islam pada aspek menjadi pegangan hidup, melainkan jadi senjata dagang.

0 Response to "Islam Menjadi (Tangan) Kapitalisme"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel