Esai: (Mengantongi) Kantong Plastik

esai kantong plastik
Pada siang itu di hari Sabtu, 17 Februari 2019. Ketika Saya duduk termenung membaca buku dikoridor kelas. Seketika, keluar seseorang dari dalam kelas yang sudah kenal, ya, itu teman perempuan saya yang mempunyai niat untuk membelokkan kakinya pergi ke kantin yang pada saat itu guru mata pelajaran belum masuk kelas untuk mengajar. 

Lalu, setelah sepulangnya dari kantin dia membawa sekantong plastik hitam yang entah apa saja yang ada didalamnya. 

Berselang beberapa puluh menit kemudian dimana bacaan buku Saya pun sudah dapat 50 halaman, teman Saya yang perempuan tadi keluar kembali dari kelas dan membelokkan kakinya lagi kearah kantin di pojok kelas itu, dan sepulangnya dari kantin dia membawa kembalik (se)kantong plastik yang berisi makanan pastinya, yang pasti sekarang beda menu makanannya, mungkin. 

Di sisi lain Saya heran, kantong plastik yang tadi kemana, kok tidak dipakai lagi?
                                                                               ***
Pada deskripsi di atas adalah sebuah studi kasus, dimana budaya boros yang Saya lihat hampir setiap harinya ada ketika di sekolah -- dimana setiap membeli makanan dengan orang yang sama dengan boros membawa kantong plastik baru untuk membawa makanan yang belinya lagi, -- yang pada akhirnya kantong plastik yang sebelumnya di pakai berakhir di tempat sampah. 

Coba kita berlogika, dalam jangka waktu pagi sampai sore seseorang membeli makanan 3 kali sehari otomatis 3 plastik yang sudah terpakai dan terbuang, lalu kalikan dengan jangka waktu 6 hari untuk satu minggu sekolah, maka sudah 18 plastik yang sudah terbuang. 

Hal ini berdampak negatif lingkungan -- baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka waktu panjang, sebagaimana Saya masih ingat ketika Sekolah Dasar (SD) dulu dalam mata pelajaran Pemeliharaan Lingkungan Hidup (PLH) menyatakan, bahwa: sampah plastik adalah sampah yang mematikan bagi lingkungan,

Ketika sampah plastik tersebut dibuang ke sungai dapat menngontaminasi air; ketika dibakar dibakar asapnya dapat menipiskan ozon dalam jangka waktu panjang ataupun menimbulkan jerebu dalam jangka pendeknya, lalu, ketika dikubur sampah plastik itu tidak dapat mengurai malah dapat merusak kesuburan tanah. 

Ya, harus bagaimana lagi, hanya itu cara membuang sampah plastik, bukan. Sebab pengepul barang bekas pun tidak menerima apa yang di sebut sampah plastik!

Prinsip 'sekali pakai sampai rusak' untuk sampah plastik

Ternyara sikap boros bangsa ini, bukan saja boros akan uang, melainkan hal sederhana pun seperti memakai kantong plastik masih saja boros juga memakainya. 

Menurut hemat Saya, hal tersebut bisa ditanggulangi dan di minimalisir dengan memperdayakan prinsip 'sekali pakai sampai rusak', jangan hanya memakai sepeda motor saja memakai prinsip tersebut, melainkan hal:memakai kantong plastik juga harus memakai prinsip seperti itu. 

Logikanya, sekali lagi, ketika dalam satu hari (pagi-sore) seseorang di sekolah 3 kali membeli makanan memakai kantong plastik, lalu dikalikan satu minggu (6 hari untuk ukuran masuk sekolah) maka 18 plastik yang sudah terbuang. 

Akan tetapi, ketika memakai prinsip 'sekali pakai sampai rusak', jika andaikan kantong plastik tersebut terpakai dalam waktu 6 hari, maka setidaknya sudah menanggulangi 17 kantong plastik untuk dijadikan sampah yang berdampak negatif bagi lingkungan untuk kehidupan manusia.

Hal tersebut harus dimulai dengan diberdayakannya prinsip 'sekali pakai sampai rusak' dari mulai petinggi negara; guru di sekolah; hingga penduduk pelosok yang sudah terjamah dengan modernisasi, agar kebiasaan kecil ini tidak berakibat fatal pada lingkungan, dengan mengubah paradigma dengan prinsip tersebut.

Maka dari itu, mari semua siswa maupun masyarakat melakukan tindakkan 'sekali pakai sampai rusak' tersebut untuk kantong plastik, agar lingkungan sekitar terjaga dan nyaman dan terhindar dari padatnya sampah plastik yang berdampak negatif bagi negeri Indonesia.

Oleh: Hadiana
Pada: Rabu, 20 Februari 2019

5 Responses to "Esai: (Mengantongi) Kantong Plastik"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel